Desahan ini adalah nafas kelelahan ku demi puncak Himalaya. Tapi sejenak kelelahan itu hilang sesaat terpintas di pikiran tujuan utama ku, yakni terjun dan mengeluarkan sayap dari punggung hingga ku bisa menghampirimu kelangit yang sedang bercengkrama dengan tujuh bidadari. Lompatan pertamaku seirigan dengan harapan jiwa yang memaksa kulit di punggung mereka dan terselinaplah anak sayap mengembang seiring dengan nada detak jantung di sempurnakan dengan denyut nadi sahingga sayap yang sebenarnya muncul. Aku pun tak ingin mengulur waktu lagi ku arahkan kepalaku menujunya
Rajawali menerkam alat penerbanganku sehingga aku lepas kendali terjatuh menyusuri udara ke gentingan. Aku berteriak tapi semua itu adalah kebodohan ku karna padang pasir telah menuggu dengan kehampaan. ketika kepalaku menampar hamparan lahan tandus itu dengan gerak refleks badanku terhempas ke lantai. Mimpi itu membuat punggungku merasa sakit.
Sinar mentari pagi menyelinap di rapatan jendela mataku terbuka dengan kelambanan menuju jarum pendek jam dinding terlihat jelas, angka yang di tunjukkan jarum tersebut angka 7 gerak refleks terjadi lagi untuk yang kedua kalinya, gerakan yang tanpa sengaja itu membuatku terpeleset di kamar mandi sehingga aku bergerak cepat dalam keadaan yang kurang stabil ini.
Sesampainya di sekolah aku duduk di tempat biasa dalam kelas yaitu sudut pojok kanan , ketika belajar seorang perempuan di sudut pojok kiri itu membuatku beralih pada mimpi smalam,bagai mana tidak Dialah perempuan yang sedang bercengkrama dengan tujuh bidadari itu,sebut saja namanya Sinta. Sinta telah mengalahkan rasa manis madu ,matanya selalu menerangi kegelapan pikiranku,sedangkan senyumnya adalah setruman terdahsyat yang melebihi kekuatan petir, yang menjamin hidupku padanya ialah suaranya, menyengarkan ketulususan tutur sapanya saja diriku merasa dikedamaian yang di iringi denting piano meredam kebisingan segala suara . Hari ini takkan kusia-siakan, apapun yang terjadi aku harus mengalirkan rasa ini padanya, ketulusan ini tak boleh ku pendam lagi, semua teman juga setuju, “Aku harus ungkapkan dari lubuk hati”.
“TRRREEENGGG” bel menunjukkan pulang sekolah bergema dengan pacuan jantung ku yang semakin cepat. Tapi semua tak ku hirau , segera ku hampiri si bidadari itu”Sintaa, ada yang musti aku omongin ama kamu”
“kamu mo ngomongin apa?”
“ntar aja, tungguin orang pulang dulu”
“sekarang aja,soal nya ntar aku ada kerja di rumah”





